26 Oktober 2009

Coretan Kaki "House of Beta XII IPA 2"

Di sini aku mencoba mengarahkan memori yang lama beku di pusat komputer tubuh yang paling berharga, mencoba menarik kembali pita memori yang telah lama kusut gak terawat... Mungkin karena kesibukan masing-masing sahabat-sahabatku sehingga belum ada yang sempat mencorat-coret di atas lahan pasir kenangan... Sebuah rumah yang terletak nan jauh di negeri antai berantai...


Ada sejuta bahkan tak terhingga kenangan manis yang telah terukir dalam kalbu masing-masing yang merasakan indahnya sebuah keluarga yang bersemi di bawah satu atap perjuangan... Bercerita tentang rasa, bercerita tentang buku, bercerita tentang Kantin "Bingka Hitam nan Pedas", bergurau tentang hal-hal lucu, berbagi "pengganjal" perut di antara sesama, berkumpul dari satu rumah ke rumah lain. hanya mereka dan diriku sendiri yang tahu dari sekian juta hamparan kenangan yang tak bisa selesai kulukis... (teman bantu yah siapkan kuas dan cat-nya)

Disini, sang pelukis langit mencoba untuk mulai melukis dari titik terendah yang ada dalam pikiran aku. Namun, alangkah lebih baiknya lagi kalo kita saling mengenal dulu. Perkenalan personel House Beta. Yang pertama Hendri (http://www.facebook.com/home.php?#/profile.php?id=1569101517&ref=profile), lebih dikenal sebagai bolang. Saat itu menjabat sebagai kepala rumah tangga (lebih kerennya "ketua kelas"...) Anak desa yang mencoba peruntungan di sekolah yang dikenal sebagai sekolah terbaik di Bumi Panrita Lopi ini, baginya tantangan adalah jalan untuk maju. Berempat dengan teman SMP-nya mengadu nasib di sekolah yang sangat banyak di huni anak-anak cerdas. Di rumah ini iyya bergabung dengan sejuta harapan akan menjadi khalifah yang berguna. Secara fisik lumayan cakep (dikit narsis), cerdas gak bodoh juga nggak (50:50 lha yah), hobinya dengan mata pelajaran berhubungan dengan atom-atom (yang berhubungan dengan Alkana, Alkena, Alkuna, keton, stokiometri, larutan asam basa dll.. he,,he,, pusing juga yah). Hobinnya nge-bolang dari kelas ke kantor dan kadang di luar lingkup sekolah, luar kota, bahkan luar provinsi, Baginya nge-bolang memberikan ketengan batin menambah deretan pengalaman. Anak desa yang tak pernah merasa minder dengan anak-anak kota lainnya yang lebih rapi dari segi pakaian, punya kendaraan pribadi, motor pribadi bahkan mobil pribadi. Baginya sepeda Ontel tua dan mobil "pete-pete" adalah teman setia mangarungi perjalanan 10 Km tiap pagi dan sore. Tapi baginya itulah jalan hidup yang merupakan tangga terendah yang harus dilewati untuk menuju tangga paling tinggi dan masuk ke dalam istana kehidupan... Di House Beta dia sukanya piket hari sabtu, dan paling benci senin karena senin akan upacara dan malas bgt di kejar-kejar ma guru yang kayak mengejar binatang ternak untuk segera ke lapangan merah putih. So, kenapa sabtu? Iyya karena hari jumat cepat pulang jadi berharap dikit sampah. Maklum wajah-wajah penghuni disini gak ada yang sadar sampah, mengikuti watak orang lain yang senang buang sampah sembarangan,,, (he..he.. it is reality). Kayaknya ditiap kelas mesti dipasang jendela Singapura. Saat ini dia sedang nyantri di jurusan Akuntansi, Universitas Trisakti Jakarta.




Dari sekian jumlah penghuni House Of Beta, wanita Muslimah yang satu ini sebut saja Mifta (http://www.facebook.com/home.php?#/profile.php?id=1750247154&ref=ts), gadis berkerudung panjang ini menjadi teladan bagi keluarga kami di sini. Dia adalah Muslimah cerdas yang sejak SMP sudah punya segudang prestasi. Penampilannya yang sederhana dengan busana Muslimah yang selalu menutupi auratnya. Saya pertama kali mengenal dia saat SMP dulu. Waktu itu dia bersekolah di SMP 2 Bulukumba dan aku saat itu di SMP 3 Ujung Loe. Mifta, adalah saudara kembar Rif'a yang juga salah satu siswa cerdas di sekolah kami. Dia adalah juara Olimpiade Biologi. Pertemuan kali yang pertama kira-kira tahun 2003 lalu di Dinas Pendidikan kabupaten Bulukumba di mana lomba diadakan. Waktu itu aku ikut Olimpiade Fisika, tetapi masih kurang beruntung saya hanya bisa bertengger di posisi 4. Dan yang mewakili ke tingkat provinsi hanya peringkat 1-3. Selangkah lagi.... Tapi mungkin belum rejeki. (Always Be Positive Thinking)... Mifta adalah gadis yang sedikit bicara tapi banyak banyak, majalah-majalah remaja Islam setia ditangannnya. Dia sangat kutu buku. Pandai dalam berduskisi dan saat SMA dia menjadi andalan sekolah kami dalam Olimpiade Komputer. Di bawah binaan Pak Rusli Umar dia mampu menjadi juara kabupaten. Tutur katanya yang santun membuat teman-teman sangat nyaman berada di sampingnya. Dia tinggal disebuah desa sekitar 7 km dari pusat kota sebut saja desa Bialo. Ketekunannya memberi motivasi bagi teman-teman dan aku sendiri untuk belajar lebih giat lagi. Melihat dia rajin membaca membuat saya iri sendiri dan kadang menyesal betapa malasnya diriku. Banyak sekali prestasi yang dia torehkan di sekolah, selain itu dia juga aktif di OSIS dan Remaja Masjid. Aku senang berdiskusi dengannya tentang Islam. Namun, terkadang banyak teman-teman yang merasa canggung dengannya karena dia Muslimah yang sangat taat, biasanya cowok-cowok takut mendekat atau berbicara dengan dia. Tapi bagi aku Mifta adalah sosok wanita yang juga senang melucu, kadang-kadang diantara diskusi kami diselingi dengan humor. Alangkah bahagianya laki-laki yang menjadi pendampingnya nanti, punya istri yang sholehah, rajin dan pintar. Saat ini, dia tengah menuntut ilmu di jurusan Matematika, Universitas Negeri Makassar.

Aljabar, geometri dan menghitung-hitung bilangan rumit adalah hobbi-nya. Dia sangat doyang dengan angka-angka, bahkan karena gilanya dengan angka-angkat setiap ada mata pelajaran Matematika pasti dia akan menjadi orang pertama yang angkat tangan dan selesai pekerjaannya. Yah sebut saja cowok berkacamata ini dengan Jackson (http://www.facebook.com/home.php#/jack.einstein?ref=ts)

































30 Juni 2009

Public Speaking Contest "ASEAN as One Community" Part II
















Public Speaking Contest "ASEAN as One Community"




Gambar 1. Tiga peserta Finalis Public Speaking Contest lagi narsis.
Gambar 2. Peserta Finalis (16 Orang) dan Dewan Juri lagi berpose. Ada panitia juga loh yang ikutan.
Gambar 3. Empat Finalis lagi berdiri tidak jelas di tengah podium. Keren....Cowoknya cakep banget. (Anak mana tuh???)

28 Juni 2009

Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) Kopertis Wilayah III











Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) Kopertis Wilayah III




Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) Kopertis Wilayah III



Presentasi di hadapan dewan juri. Sedikit deg-degan juga sih. Namun tetap semangat...

24 Desember 2008

Catatan Pinggir buat SMAN 1 Bulukumba

...Juli 2004...

Suasana panas dan kerumunan siswa-siswi yang sibuk mendaftar di SMAN 1 Ujung Loe. Sebuah SMA yang baru didirikan di daerah Ujung Loe, tempatnya pas di belakang SMPN 3 Ujung Loe. Saya juga menjadi bagian dari sekian siswa yang berkumpul itu.

Langkah kakiku menuju sebuah ruang administrasi, tepat di depan kaca tertera jelas "TEMPAT PENGAMBILAN FORMULIR". Saya berjalan langkah demi langkah dan bertemu dengan seorang petugas yang menjaga tempat itu. Tanpa basa-basi saya menukarkan dua lembar uang sepuluh ribuan dengan sebuah formulir pendaftaran.

Formulir sudah di tangan, sekarang waktunya untuk corat-coret di atas kertas putih tersebut yang hanya berisi nama lengkap titik dua titik-titik, jenis kelamin titik dua titik-titik, asal sekolah titik dua titik-titik, dan seterusnya penuh dengan titik-titik. Merurut petunjuk titik-titik itu harus di isi dengan huruf balok. Yah, saya isi dengan segera. Selesai dalam waktu 10 menit.

Saatnya tes mengaji....
Sebagai salah satu syarat untuk lulus di SMA ini, ada aturan setiap mahasiswa wajib mengikuti tes mengaji (uppss, bagi yang muslim saja). Suasana tes mengaji begitu hambar karena saya merasa malu sendiri melihat teman-teman, sudah gede kayak unta (he..he...) masih belum bisa mengaji. Pantaslah kalo bangsa ini dirongrong oleh korupsi karena banyak warganya yang low attitude.
Saya bukannya sok pintar tapi ini memang realita. Banyak teman yang tidak tahu Al-Fatihah tapi bisa baca Alhamdu... Mereka pun tahu Al-Fatihah sebagai warisan nenek moyang, kata orang Betawi dari Nyak Babe-nya. Sungguh ironis!!!

Kembali ke Laptop...
Setelah tes mengaji usai sudahlah pendaftaran di SMAN 1 Ujung Loe. Saya pulang ke rumah dengan membawa sepucuk kertas yang kata panitia PSB (Penerimaan Siswa Baru), kertasnya disimpan untuk dijadikan tanda bukti jika lulus atau diterima di SMAN 1 Ujung Loe. Semoga yah??? Amin!!!

Terus kenapa bisa SMAN 1 Bulukumba...
"Saya ingin sekolah di SMAN 1 Bulukumba nanti kalo sudah lulus bareng kakak", itulah kata yang terucap di mulut saya ketika masih kelas 1 SMP. Saya tidak tahu kenapa minat sekolah di sana. Mungkin saja karena kedua sepupu saya sekolah disana waktu itu. Kata-kata itu terus terngiang ditelinga saya dan seakan menjadi sugesti untuk mendaftar di SMAN 1 Bulukumba. (Notes: selama saya SMP belum pernah melihat dan menginjakkan kaki di SMAN 1 Bulukumba) maklum saya jarang sekali keluar dari rumah apalagi ke sekolah-sekolah orang lain.

Keesokan harinya...
Sugesti yang ada sehari sebelumnya betul-betul membangkitkan minat saya untuk menjajal kemampuan di SMAN 1 Bulukumba, kata orang-orang salah satu sekolah Unggulan yang ada di Kabupaten Bulukumba, tapi pada waktu itu saya tidak tahu apanya yang unggul??? Tapi sekedar info siswa-siswi yang numpang belajar di sana kebanyakan berasal dari SMP 1 dan SMP 2 Bulukumba. Jadi, bisa dikatakan memang unggul karena anak-anak SMP 1 dan SMP 2 pernah mengalahkan saya dalam beberapa kompetisi baik Olimpiade maupun Siswa Teladan.

Suasana pendaftaran di SMAN 1 Bulukumba memang jauh lebih ramai daripada SMAN 1 Ujung Loe. Siswa-siswa datang dari berbagai penjuru sekolah, tidak hanya dari Bulukumba saja tapi dari kabupaten-kabupaten lain di Indonesia. Sangat ramai dan ramai. Satu per satu saya ajak kenalan, walaupun terkadang saya merasa malu untuk berkenalan, maklum kata orang-orang saya orangnya rada pemalu. Hari itu saya berkenalan dengan Nuki dan beberapa teman lain yang saya agak lupa namanya. Tapi mereka tetap teman saya sampai kapanpun.

Selanjutnya tiba waktunya untuk pengembalian formulir dan ini dalah hari kedua saya menginjakkan kaki di sekolah ini, walaupun belum diterima sebagai siswa disini.

Continued (nantikan selanjutnya).....